Asap yang Menyesal

 Asap yang Menyesal


Pak Jono duduk di teras rumahnya, mata menatap jauh ke arah sawah yang hijau. Jari kirinya secara refleks menggenggam bungkusan putih yang sudah lusuh rokok yang selalu ada di sampingnya selama sepuluh tahun terakhir.

"Dad, kenapa kamu selalu merokok?" tanya Rina, anak perempuannya yang baru berusia sembilan tahun, sambil mendekat dan duduk di sebelahnya. Tangan kecilnya menyentuh lengan Pak Jono yang kurus.

Pak Jono terkejut, lalu menyembunyikan bungkusan rokok di balik kursi. "Itu untuk... menghilangkan rasa capek saja, nak," jawabnya dengan suara pelan.

Sejak dia kehilangan pekerjaan di pabrik tekstil tiga tahun lalu, rokok jadi teman satu-satunya yang dia anggap bisa mengusir rasa cemas dan kesendirian. Setiap hisapan membuatnya merasa tenang sejenak, meskipun setelahnya hanya tinggalkan batuk yang menggigit dan rasa sesak di dada.

Suatu hari, Rina pulang dari sekolah dengan tangan membawa poster bergambar paru-paru sehat dan paru-paru yang rusak akibat merokok. "Guru bilang, orang yang merokok bisa sakit parah, Dad. Dan orang di sekitarnya juga ikut terkena bahayanya," ujarnya dengan wajah serius. Dia lalu memeluk pinggang Pak Jono. "Aku tidak mau Dad sakit."

Kata-kata anaknya seperti cambuk yang menusuk hati Pak Jono. Malam itu, dia melihat ke dalam cermin wajahnya yang lebih cepat tua, tangan yang berkeringat setiap kali merokok terlalu banyak, dan batuk yang sudah jadi bagian dari kehidupannya. Dia juga ingat betapa seringnya Rina harus menutup hidung dan batuk-batuk ketika asap rokoknya menyebar di rumah.

Esok paginya, Pak Jono mengambil semua bungkusan rokok yang ada di rumah dan membawanya ke belakang pekarangan. Dia menggali lubang kecil dan menguburkannya satu per satu, sambil berbisik, "Cukup sudah, asap ini tidak akan merusak hidupku dan keluarga ku lagi."

Rina yang melihatnya dari jendela langsung berlari keluar dan memeluknya erat. Pak Jono tersenyum, rasanya seperti ada beban besar yang terangkat dari pundaknya. Meskipun jalan untuk berhenti tidak akan mudah, dia tahu ada alasan yang kuat untuk terus berjuang untuk membuktikan  cinta pada anak dan keluarga yang dia sayanginya.


Gambar Ilustrasi

Beberapa minggu setelah mengubur rokoknya, Pak Jono masih sering merasakan godaan yang kuat. Kadang kala, ketika dia duduk di teras dan melihat tetangga sebelahnya sedang merokok, tangannya secara refleks akan mencari sesuatu di samping kursi  sebelum ingat bahwa bungkusan itu sudah tidak ada lagi.Saat itu, Rina datang membawa secangkir teh hangat. "Dad, ini teh jahe yang aku buat sama Mama. Guru bilang jahe bisa membantu ketika merasa tidak nyaman," katanya dengan senyum ceria.

Pak Jono menerima cangkirnya, tangan sedikit gemetar. "Terima kasih, nak. Kamu benar-benar anak yang baik buat Papa.

Hari demi hari, Rina selalu menemani Pak Jono ketika godaan datang. Mereka sering berjalan-jalan ke sawah bersama, melihat pertumbuhan tanaman padi yang mereka rawat bersama. Kadang mereka juga membuat kerajinan tangan dari daun kelapa untuk dijual di pasar desa.

Setelah tiga bulan, batuk yang selalu mengganggu Pak Jono mulai berkurang. Dia merasa lebih segar di pagi hari dan bisa bekerja lebih lama di sawah tanpa merasa sesak napas. Suatu sore, dia bahkan berhasil menangkap ikan lele yang banyak di kolam belakang rumah untuk makan malam keluarga.

"Lihat, Dad! Kamu sekarang lebih kuat dari dulu," teriak Rina sambil membantu mengangkat ember berisi ikan.

Pak Jono tersenyum lebar, menyentuh kepala anak perempuannya. "Semua karena kamu, nak. Kamu adalah penyelamat Papa."

Malam itu, saat keluarga sedang makan malam bersama, Pak Jono berdiri dan mengambil gelas air putih. "Aku mau bilang terima kasih buat Mama dan Rina. Tanpa kalian, aku tidak akan bisa keluar dari jeratan rokok. Mulai sekarang, kita akan hidup lebih sehat dan bahagia bersama ya."

Semua orang mengangguk, wajah mereka dipenuhi senyum yang tulus. Di langit luar, bulan bersinar cerah menyaksikan langkah baru keluarga kecil itu.


 Farhan Darwis

"Coffee HItam"


Komentar

Postingan populer dari blog ini

TENTANG RASA