DIUJUNG PENA ?

HARAPAN IBU DIUJUNG PENAMU ?

Hanya Ilustrasi

Di gang kecil pemukiman padat penduduk, rumah kecil Ibu  Asmi selalu terlihat bersih dan rapi. Tiap pagi, Ia bangun lebih awal dari biasanya memasak nasi hangat dengan lauk kesukaan anaknya yang mulai hari ini akan menghadiri hari pertama sekolah dasar.

Aresha berusia enam tahun, matanya bersinar saat melihat seragam putih dan merah yang sudah disiapkan di atas ranjang. Tapi tiba-tiba, tangannya menggenggam ujung rok seragam Ibu Asmi dengan rapat. 

"Bu, kalau aku tidak pandai belajar gimana? Kalau teman-teman tidak mau bermain dengan aku?"

Ibu Asmi mencium dahi anaknya yang masih hangat karena tidur. 

"Kamu tidak perlu kuatir sayang. Sekolah itu seperti kebun kecil setiap anak adalah bibit yang berbeda, dan kamu hanya perlu tumbuh dengan cara kamu sendiri. Ibu akan selalu ada di ujung jalan, menunggumu pulang."

Setelah membersihkan wajah dan makan pagi dengan hati-hati, mereka berjalan menuju sekolah yang hanya lima ratus meter dari rumah. Aresha masih sering melihat ke belakang, memastikan Ibu Asmi masih mengikutinya. Sampai di gerbang sekolah, Ia menggenggam tangan Ibu dengan erat, tidak mau melepaskannya.

Anak itu selalu bertanya denga ragu, namun untuk selalu membuat anaknya tetap semangat, ibu Asmi memberikan edukasi yang baik dan harapan yang bagus untuk sekolahnya..!!

Ibu Asmi selalu membuat analogi sederhana kepada anaknya agar dapat dimengerti.

IBU : Nak, apa yang ingin kau lakukan ketika semua impianmu tidak bisa terwujud akibat malas berangkat  sekolah ?

ANAK :  Aku akan berangkat ibu jika mengikuti suasan hatiku, aku masih mengantuk, dengan senyuman yang tipis dan ingin tidur lagi.

IBU : Lantas jika kamu masih mengantuk siapa yang akan mewakilimu untuk sekolah ? Nak tidak boleh seperti itu dalam mengambil sebuah keputusan, Ibu Boleh melarangmu jika kamu sakit, namun jika kamu sehat ibu juga patut untuk terus mendorongmu untuk mengejar sekolahmu.

IBU : Nak. Kamu ingin menjadi apa dan siapa kedepan kamu harus ke sekolah.

ANAK : Yah ibu aku paham apa yang ibu maksud, bukannya semua anak mandiri dalam memutuskan apa yg ingin diraih ?

IBU : Iya Nak, Itu benar,  justru karena itu ibu mendukung kemauanmu. Kamu ingin jadi seorang insiyur  yang baik kan  ?

ANAK : Iya Bu !

IBU : Kamu akan menjadi besar jika kamu belajar lebih giat lagi. Kamu akan menjadi orang besar untuk bisa membangun bangsa dan negara kedepan jika hari ini kamu belajar dengan baik.

ANAK : Iya Bu, Aku akan pergi, maafkan anakmu ini. Ternayata diujung penaku ada masa depan yang belum kutuliskan dengan benar, dan dari lembaran buku ini aku akan mencoba mengukirnya.

Setelah mengantar Anaknya Sekolah, Ibu Asmi tidak langsung pulang. 

Ia duduk di bangku kecil di tepi jalan, tepat di sudut ujung gang yang menghubungkan rumah dan sekolah. Dari sana, Ia bisa melihat gerbang sekolah yang menjadi "ujung pena anaknya" bagi anaknya yang baru memulai perjalanan belajar.

Saat matahari mulai naik, Ia melihat beberapa anak lain keluar untuk istirahat, tapi belum melihat anaknya. Beberapa tetangga lewat dan menanyakan, "Kenapa tidak pulang saja Bu Asmi ? Sudah pasti dia baik-baik saja."

"Aku mau tunggu sebentar lagi," jawab Ibu dengan senyum lembut. "

Hari pertamanya kan, mungkin dia akan melihat ke luar dan ingin tahu apakah ibu masih ada di sana."

Setelah bel sekolah berbunyi menandakan jam istirahat usai, Aresha tiba-tiba muncul di teras kelas dan melihat ke arah jalan. Ketika matanya menemukan sosok Ibu yang masih berdiri di sana, Ia mengangkat tangan dan meniup ciuman dari kejauhan. Ibu Asmi  pun menjawab dengan senyum lebar dan mengangguk perlahan.

Sore hari tiba, dan anak-anak mulai keluar dari sekolah satu per satu. Aresha berlari cepat menjauhi teman-temannya yang sedang berisik, langsung ke arah Ibu Asmi yang sudah menunggunya dengan tas bekal dan botol air hangat.

"Bu!" teriak Aresha dengan wajah ceria. "Hari ini aku belajar mengenal angka dan warna! Guru bilang aku pandai menggambar matahari!"

Ibu Asmi mengusap rambut anaknya yang sedikit kusut karena bermain dan berkata 

"Betul sekali sayang, kamu memang bisa melakukan apa saja yang kamu mau." 

Saat mereka berjalan pulang, Aresha melangkahkan kaki dengan lebih percaya diri, terkadang berlari ke depan lalu kembali lagi untuk menggenggam tangan Ibu dan berkata. 

"Terima Kasih ibu telah menjadi satu - satunya pelindung yang baik didunia ini walaupun jika pada akhirnya aku harus gagal dan berhasil, aku akan tetap semangat dalam menjalin segalanya, aku akan mencoba hingga sampai pada titik akhir"

===================
Tulisan ini adalah sebuah karya fiktif sebagai bahan motivasi para pembaca.
"Jangan berhenti untuk mencoba, apapun hasilnya".

"Farhan Darwis"
  Coffee Hitam

Komentar

Postingan populer dari blog ini

TENTANG RASA