DIUJUNG PENA ?
HARAPAN IBU DIUJUNG PENAMU ?
![]() |
| Hanya Ilustrasi |
Di gang kecil pemukiman padat penduduk, rumah kecil Ibu Asmi selalu terlihat bersih dan rapi. Tiap pagi, Ia bangun lebih awal dari biasanya memasak nasi hangat dengan lauk kesukaan anaknya yang mulai hari ini akan menghadiri hari pertama sekolah dasar.
Aresha berusia enam tahun, matanya bersinar saat melihat seragam putih dan merah yang sudah disiapkan di atas ranjang. Tapi tiba-tiba, tangannya menggenggam ujung rok seragam Ibu Asmi dengan rapat.
"Bu, kalau aku tidak pandai belajar gimana? Kalau teman-teman tidak mau bermain dengan aku?"
Ibu Asmi mencium dahi anaknya yang masih hangat karena tidur.
"Kamu tidak perlu kuatir sayang. Sekolah itu seperti kebun kecil setiap anak adalah bibit yang berbeda, dan kamu hanya perlu tumbuh dengan cara kamu sendiri. Ibu akan selalu ada di ujung jalan, menunggumu pulang."
Setelah membersihkan wajah dan makan pagi dengan hati-hati, mereka berjalan menuju sekolah yang hanya lima ratus meter dari rumah. Aresha masih sering melihat ke belakang, memastikan Ibu Asmi masih mengikutinya. Sampai di gerbang sekolah, Ia menggenggam tangan Ibu dengan erat, tidak mau melepaskannya.
Setelah mengantar Anaknya Sekolah, Ibu Asmi tidak langsung pulang.
Ia duduk di bangku kecil di tepi jalan, tepat di sudut ujung gang yang menghubungkan rumah dan sekolah. Dari sana, Ia bisa melihat gerbang sekolah yang menjadi "ujung pena anaknya" bagi anaknya yang baru memulai perjalanan belajar.
Saat matahari mulai naik, Ia melihat beberapa anak lain keluar untuk istirahat, tapi belum melihat anaknya. Beberapa tetangga lewat dan menanyakan, "Kenapa tidak pulang saja Bu Asmi ? Sudah pasti dia baik-baik saja."
"Aku mau tunggu sebentar lagi," jawab Ibu dengan senyum lembut. "
Hari pertamanya kan, mungkin dia akan melihat ke luar dan ingin tahu apakah ibu masih ada di sana."
Setelah bel sekolah berbunyi menandakan jam istirahat usai, Aresha tiba-tiba muncul di teras kelas dan melihat ke arah jalan. Ketika matanya menemukan sosok Ibu yang masih berdiri di sana, Ia mengangkat tangan dan meniup ciuman dari kejauhan. Ibu Asmi pun menjawab dengan senyum lebar dan mengangguk perlahan.
Sore hari tiba, dan anak-anak mulai keluar dari sekolah satu per satu. Aresha berlari cepat menjauhi teman-temannya yang sedang berisik, langsung ke arah Ibu Asmi yang sudah menunggunya dengan tas bekal dan botol air hangat.
"Bu!" teriak Aresha dengan wajah ceria. "Hari ini aku belajar mengenal angka dan warna! Guru bilang aku pandai menggambar matahari!"
Ibu Asmi mengusap rambut anaknya yang sedikit kusut karena bermain dan berkata
"Betul sekali sayang, kamu memang bisa melakukan apa saja yang kamu mau."
Saat mereka berjalan pulang, Aresha melangkahkan kaki dengan lebih percaya diri, terkadang berlari ke depan lalu kembali lagi untuk menggenggam tangan Ibu dan berkata.
.jpeg)
Komentar
Posting Komentar