Nenek Asih dan Kopi Kehidupan

Nenek Asih dan Kopi Kehidupan

Hanya Ilustrasi
Di Pagi itu, Mentari menyelinap di antara celah-celah daun kopi, menyapa bulir-bulir merah yang menggantung di pohon-pohon rindang. Aroma tanah basah dan dedaunan yang masih lembap bercampur dengan harumnya biji kopi yang hampir matang.  Di tengah perkebunan kopi yang luas itu, berdirilah seorang wanita tua bernama Nenek Asih, dengan keranjang anyaman di tangannya, ubannya yang memutih tertiup angin sepoi-sepoi, sementara senyum teduh terukir di wajahnya yang keriput.

Suasana di perkebunan kopi tempat Nenek Asih bekerja dipenuhi dengan ketenangan yang damai.  Udara pagi yang sejuk dan lembap membawa aroma tanah basah yang khas, bercampur dengan aroma manis dan sedikit asam dari biji kopi yang hampir matang.  Sinar matahari pagi yang lembut menyinari dedaunan hijau yang lebat, menciptakan efek dappled light yang menenangkan.  Suara-suara alam seperti kicau burung dan desiran angin diantara dedaunan menambah nuansa menenangkan.

Setiap hari, Nenek Asih menghabiskan waktu di perkebunan kopi ini, warisan leluhur yang telah dirawatnya selama puluhan tahun.  Ia bukan hanya merawat tanaman kopi, tetapi juga merawat kenangan.  Setiap pohon kopi baginya adalah sebuah cerita, sebuah kenangan akan masa lalu.  Ada pohon kopi tua yang ia tanam bersama almarhum suaminya, ada pula pohon muda yang ia tanam untuk cucu-cucunya. 

 Hari ini, Nenek Asih memetik biji kopi dengan hati-hati, memilih yang sudah benar-benar matang.  Jemarinya yang renta bergerak lincah, seolah-olah berbisik kepada setiap bulir kopi, Ia mengingat masa mudanya ketika ia masih gadis dan  membantu ayahnya diperkebunan.  Ia mengingat aroma kopi yang harum, rasa kopi yang nikmat, dan tawa riang bersama teman-temannya.

Dulu, ketika dia masih gadis muda, ayahnya menyerahkan kebun itu dengan pesan: "Setiap buah kopi punya cerita sendiri, Asih. Jangan hanya memetiknya, tapi dengarkan apa yang mereka katakan." Saat itu dia tak mengerti, tapi kini, setiap pagi dia duduk di atas batu besar yang sudah mengeras karena sinar matahari, dia bisa merasakan getaran setiap ranting dan suara setiap buah yang siap dipetik.

Waktu itu musim kemarau yang panjang, harga kopi dunia anjlok parah. Petani kopi di sekitar mulai mengganti kebun mereka dengan tanaman lain yang lebih menguntungkan. Beberapa anak muda datang ke rumah Nenek Asih, menawarkan harga mahal untuk membeli lahan kebunnya.

 "Nenek, ini uangnya bisa buat rumah baru dan biaya sekolah cucu-cucumu lho," kata salah satu dari mereka.

Nenek Asih hanya tersenyum, lalu mengajak mereka berjalan ke tengah kebun. Dia menyentuh satu pohon kopi yang batangnya bengkok seperti lengan yang sedang merentangkan tangan. 

"Pohon ini saya tanam sendiri ketika suamiku pergi bekerja ke kota dan tidak pernah kembali. Setiap buahnya punya rasa rindu yang dalam." 

Lalu dia mengambil satu buah merah matang, "

"Dan lihat ini, meskipun musim keras, mereka tetap tumbuh dengan sekuat tenaga, karena tahu ada orang yang akan menghargai rasa mereka yang khas."

Tanpa berkata banyak, anak muda itu pun pergi dengan kepala tersungkur. Tidak lama setelahnya, seorang ahli kopi dari luar negeri datang mengunjungi kebunnya. 

Dia terkejut menemukan bahwa kopi dari kebun Nenek Asih punya rasa yang unik campuran manis seperti madu, sedikit pahit seperti kenangan, dan segar seperti embun pagi. "Bagaimana Anda merawatnya dengan sempurna?" tanya ahli itu.

"Saya tidak merawatnya, saya hidup bersama mereka," jawab Nenek Asih sambil membersihkan dedaunan kering di sekitar akar pohon. "

Saat musim hujan, saya berdoa agar mereka tidak tergenang air. Saat musim panas, saya mencari sumber air untuk mereka. Dan setiap kali memetik, saya hanya mengambil buah yang sudah siap dan tidak  pernah memaksakan yang belum matang.

Banyak yang menawarkan untuk membantu membesarkan bisnisnya, tapi Nenek Asih tetap memilih mengelolanya sendiri, bersama beberapa cucunya yang sekarang mulai belajar mengerti bahasa dari setiap pohon kopi.

"Kebun ini bukan hanya tentang uang atau kesuksesan," katanya setiap kali mengajarkan cucunya cara memetik dengan benar. "Ini tentang menjaga janji dan menghargai setiap cerita yang tertanam di dalam tanah dan buah-buahnya."

Setelah selesai memetik kopi, Nenek Asih duduk di bawah pohon kopi tua kesayangannya.  Ia menikmati secangkir kopi hangat yang baru ia seduh, aroma kopi yang harum memenuhi udara.  Di matanya yang sayu, terpancar kebahagiaan yang sederhana.  Kopi baginya bukan hanya sekadar minuman, tetapi juga sumber kehidupan, sumber kebahagiaan, dan sumber kenangan.  Ia menghirup aroma kopi, merasakan hangatnya disetiap seduhannya membiarkan kenangan-kenangan indah membanjiri hatinya.  Di bawah pohon kopi tua itu, Nenek Asih menemukan kedamaian yang hanya bisa ditemukan di tengah alam dan aroma kopi yang harum.  Dan disana, di tengah perkebunan kopi yang luas, cerita kopi terus berlanjut, dari generasi ke generasi hingga saat ini.


11 Mei 2025 

Farhan Darwis

Komentar

Postingan populer dari blog ini

TENTANG RASA