Kunci dari Hutan
Kunci dari Hutan
![]() |
| Gambar ILustrasi |
Ki Sastro dulunya adalah tukang kayu terbaik di daerah itu. Ia bisa membaca karakter kayu hanya dengan menyentuhnya, dan membuat perabot yang tidak hanya kuat tapi juga penuh makna. Sebelum penglihatannya hilang, ia sedang membuat sebuah lemari khusus untuk menyimpan kenangan keluargadengan ukiran bentuk bintang yang sama dengan tato di lengannya. Namun pekerjaan itu terhenti di tengah jalan.
Jaka yang dulunya lebih suka bermain di sungai ketimbang belajar dari ayahnya, kini menjadi tulang punggung keluarga. Setiap pagi, ia pergi ke kebun aren untuk mengambil getah, menjualnya di pasar, lalu membeli kebutuhan sehari-hari. Namun hatinya selalu terikat pada proyek yang belum selesai ayahnya.
Suatu malam, Jaka mendengar ayahnya berbisik sambil menyentuh bongkahan kayu yang belum jadi lemari: "Hanya orang yang benar-benar mengenal kayu itu yang bisa menyelesaikannya... ia harus merasakan denyutnya, seperti denyut nadi manusia."
![]() |
| Gambar ILustrasi |
Tanpa berkata apa-apa, Jaka mulai belajar sendiri. Ia tidak punya mata yang terlatih seperti ayahnya, tapi ia punya tangan yang mau meraba setiap serat kayu, hidung yang bisa mencium aroma kayu yang berbeda saat terkena sinar matahari atau hujan, dan telinga yang bisa mendengar suara kayu saat dipukul dengan lembut.
Setiap malam, setelah ayahnya tidur, Jaka duduk di depan kayu itu. Ia menghafal bentuk setiap bagian yang sudah dibuat ayahnya dengan menyentuhnya berulang-ulang. Kadang-kadang ia bertanya pada ayahnya tentang teknik ukiran, dan Ki Sastro akan menjelaskannya dengan gerakan tangan yang lambat dan hati-hati.
![]() |
| Gambar Ilustrasi |
Suatu pagi, hujan turun deras. Jaka mendengar suara aneh dari gudang kayu. Ketika ia datang, ia melihat sebuah cabang pohon jati yang tumbang karena angin kencang cabang yang sama yang dulu Ki Sastro pilih untuk bagian depan lemari, tapi ia bilang "belum waktunya" untuk memotongnya.
![]() |
| Gambar Ilustrasi |
Jaka meraba cabang itu. Rasanya berbeda dari kayu yang sudah dipotong lebih hangat, seolah ada kehidupan di dalamnya. Ia membawa bagian tengah cabang itu pulang, dan ketika ia mulai mengukir bintang di atasnya, tangan itu bergerak dengan sendirinya. Setiap lekukan sesuai dengan apa yang pernah ia rasakan dari sentuhan tangan ayahnya, setiap garis seperti mengikuti alur kenangan yang mereka bagi bersama.
Ketika lemari selesai, Jaka membawanya ke depan ayahnya. Ki Sastro menyentuh setiap sudut, setiap ukiran, dan ketika jari-jari nya menyentuh bintang itu, air mata mengalir dari matanya yang buta. "Kau tidak hanya menyelesaikan pekerjaanku, anakku," katanya dengan suara gemetar. "Kau telah membaca hati kayu... dan hati ayahmu."
![]() |
| Gambar Ilustrasi |
Di bagian dalam lemari, Jaka telah menyembunyikan sebuah kotak kecil berisi kunci kayu yang ia buat sendiri kunci untuk membuka laci rahasia yang hanya bisa dibuka oleh orang yang tahu bagaimana merasakan denyut kayu itu. Dan di dalam laci itu, ia menulis sebuah catatan dengan tulisan tangan yang masih goyah: "Semua yang kulakukan adalah untukmu, Ayah. Karena kau telah memberikan semua yang kamu punya padaku, bahkan sebelum aku tahu nilainya."
Coffee Hitam





Komentar
Posting Komentar