Kunci dari Hutan

 Kunci dari Hutan

Gambar ILustrasi
Di kaki Gunung Salak, ada sebuah dusun kecil yang hanya bisa dicapai dengan jalan setapak yang melintasi hamparan kebun aren. Di sana tinggal seorang pemuda bernama Jaka dan ayahnya, Ki Sastro, yang sudah tidak bisa melihat lagi sejak tiga tahun yang lalu.

Ki Sastro dulunya adalah tukang kayu terbaik di daerah itu. Ia bisa membaca karakter kayu hanya dengan menyentuhnya, dan membuat perabot yang tidak hanya kuat tapi juga penuh makna. Sebelum penglihatannya hilang, ia sedang membuat sebuah lemari khusus untuk menyimpan kenangan keluargadengan ukiran bentuk bintang yang sama dengan tato di lengannya. Namun pekerjaan itu terhenti di tengah jalan.

Jaka yang dulunya lebih suka bermain di sungai ketimbang belajar dari ayahnya, kini menjadi tulang punggung keluarga. Setiap pagi, ia pergi ke kebun aren untuk mengambil getah, menjualnya di pasar, lalu membeli kebutuhan sehari-hari. Namun hatinya selalu terikat pada proyek yang belum selesai ayahnya.

Suatu malam, Jaka mendengar ayahnya berbisik sambil menyentuh bongkahan kayu yang belum jadi lemari: "Hanya orang yang benar-benar mengenal kayu itu yang bisa menyelesaikannya... ia harus merasakan denyutnya, seperti denyut nadi manusia."

Gambar ILustrasi

Tanpa berkata apa-apa, Jaka mulai belajar sendiri. Ia tidak punya mata yang terlatih seperti ayahnya, tapi ia punya tangan yang mau meraba setiap serat kayu, hidung yang bisa mencium aroma kayu yang berbeda saat terkena sinar matahari atau hujan, dan telinga yang bisa mendengar suara kayu saat dipukul dengan lembut.

Setiap malam, setelah ayahnya tidur, Jaka duduk di depan kayu itu. Ia menghafal bentuk setiap bagian yang sudah dibuat ayahnya dengan menyentuhnya berulang-ulang. Kadang-kadang ia bertanya pada ayahnya tentang teknik ukiran, dan Ki Sastro akan menjelaskannya dengan gerakan tangan yang lambat dan hati-hati.

Gambar Ilustrasi

Setelah hampir satu tahun, lemari hampir selesai. Hanya tinggal ukiran bintang di bagian depan yang belum jadi. Jaka sudah mencoba berkali-kali, tapi hasilnya tidak pernah sesuai dengan apa yang ia rasakan dalam hati.

Suatu pagi, hujan turun deras. Jaka mendengar suara aneh dari gudang kayu. Ketika ia datang, ia melihat sebuah cabang pohon jati yang tumbang karena angin kencang cabang yang sama yang dulu Ki Sastro pilih untuk bagian depan lemari, tapi ia bilang "belum waktunya" untuk memotongnya.

Gambar Ilustrasi

Jaka meraba cabang itu. Rasanya berbeda dari kayu yang sudah dipotong lebih hangat, seolah ada kehidupan di dalamnya. Ia membawa bagian tengah cabang itu pulang, dan ketika ia mulai mengukir bintang di atasnya, tangan itu bergerak dengan sendirinya. Setiap lekukan sesuai dengan apa yang pernah ia rasakan dari sentuhan tangan ayahnya, setiap garis seperti mengikuti alur kenangan yang mereka bagi bersama.

Ketika lemari selesai, Jaka membawanya ke depan ayahnya. Ki Sastro menyentuh setiap sudut, setiap ukiran, dan ketika jari-jari nya menyentuh bintang itu, air mata mengalir dari matanya yang buta. "Kau tidak hanya menyelesaikan pekerjaanku, anakku," katanya dengan suara gemetar. "Kau telah membaca hati kayu... dan hati ayahmu."

Gambar Ilustrasi

Di bagian dalam lemari, Jaka telah menyembunyikan sebuah kotak kecil berisi kunci kayu yang ia buat sendiri kunci untuk membuka laci rahasia yang hanya bisa dibuka oleh orang yang tahu bagaimana merasakan denyut kayu itu. Dan di dalam laci itu, ia menulis sebuah catatan dengan tulisan tangan yang masih goyah: "Semua yang kulakukan adalah untukmu, Ayah. Karena kau telah memberikan semua yang kamu punya padaku, bahkan sebelum aku tahu nilainya."


Farhan Darwis.
Coffee Hitam

Komentar

Postingan populer dari blog ini

TENTANG RASA