Lingkungan Kita
Lingkungan Kita
![]() |
| Gambar : Ilustrasi |
Ada Bayangan Udara yang selalu bernapas lembut, membuat dedaunan bergerak dan memberi suara pada angin. Ada Bayangan Air yang mengalir di antara akar pohon tanpa bentuk cairan, hanya sebagai pola cahaya yang menyegarkan apa pun yang menyentuhnya. Ada juga Bayangan Tanah yang berbicara melalui rerumputan dan batu, menyampaikan cerita tentang apa yang pernah ada dan apa yang akan datang.
Suatu hari, mereka mendengar suara yang tidak dikenal suara ketidakpedulian yang datang dari luar batas hutan. Suara itu seperti kabut gelap yang perlahan-lahan menyapu semua makhluk hidup di sekitarnya, membuat udara menjadi tidak bernyawa, air menjadi tidak jelas, dan tanah menjadi tidak bisa berbicara.
Bayangan Udara mencoba menghembuskan angin untuk mengusir kabut itu, tapi tidak berhasil. Bayangan Air mencoba mengalir untuk membersihkannya, tapi kabut itu hanya menyerapnya. Bayangan Tanah mencoba berbicara untuk memperingatkan, tapi suaranya tidak terdengar.
Lalu mereka menyadari rahasia terbesar mereka, setiap makhluk di dunia ini memiliki bayangan lingkungan sendiri yang tinggal bersamanya. Kabut gelap itu tumbuh karena banyak makhluk yang melupakan bahwa bayangan mereka adalah bagian dari satu kesatuan bernama "lingkungan kita".
![]() |
| Gambar : Ilustrasi |
Tanpa berpikir dua kali, ketiga bayangan itu menyatukan diri menjadi satu bentuk cahaya lembut. Cahaya itu terbang keluar dari hutan, menyentuh setiap makhluk yang bisa melihatnya dari anak kecil yang sedang bermain di taman hingga petani yang merawat lahan. Pada saat mereka melihat cahaya itu, mereka merasakan kehangatan dari udara yang mereka hirup, kesegaran dari air yang mereka minum, dan kedalaman dari tanah yang mereka injak.
Kabut gelap perlahan menghilang. Dan sejak itu, setiap kali ada orang yang berkata "lingkungan kita", bayangan-bayangan itu akan muncul dengan lembut, mengingatkan bahwa lingkungan bukanlah sesuatu yang ada di luar diri kita melainkan bagian dari diri kita yang selalu ada, hanya menunggu untuk dikenali kembali.
Farhan Darwis
Coffee Hitam

.jpeg)
Komentar
Posting Komentar